Parenting Ayah Edi

image_pdfimage_print

RENUNGAN UNTUK KITA SEMUA YANG SEDANG KECEWA DAN MARAH TERHADAP SESUATU YANG KITA ANGGAP KURANG PANTAS

*** SETEDUH WAJAH DAN SEDAMAI HATI SANG GURU COMPASSION

Suatu hari kami berkesempatan berbincang2 dengan Sang Guru Compassion, di acara talkshow penutup kami di Radio Smart fm.

Sambil menunggu waktu kami duduk bersebelahan agar saya bisa belajar dari Sang Guru mumpung beliau ada disini.

Kebetulan kami berdua saat itu menghadap televisi yang sedang menyiarkan berita demi berita nasional.

Lalu saya mulai terpancing untuk mengomentari tayangan demi tayangan yang di sajikan yang isinya tentang hujat menghujat dan perbuatan yang tidak pantas.

Mulailah sy terpancing emosi dan mengeluarkan komentar-komentar pedas, lalu saya mencoba menengok pada wajah teduh sang Guru dan menanyakan apa komentar beliau menanggapi isu ini.

Beliau hanya tersenyum…, dengan wajah damainya beliau hanya berkata, “ Ya, ini semua sudah sempurna sebagaimana adanya.”

Lalu muncul berita berikutnya yang tak kalah hebohnya, kembali saya terpancing lagi untuk memberikan komentar pedas.

Ketika saya menengok padanya, beliau kembali tersenyum dengan wajah tenangnya berkata pelan; “ Tidak apa, tidak ada yang salah, semua ini sudah sempurna seperti apa adanya.”

Berkali-kali mendapat jawaban yang sama dan tidak memuaskan hati saya, karena beliau tidak ikut berkomentar sebagai mana pada umumnya orang segera ikutan berkomentar pedas seperti saya, maka saya yang awam ini jadi penasaran, apa sih maksudnya ? yang seperti ini kok dibilang sempurna ?

Bertanyalah saya pada Sang Guru, apa maksud dari kata2 beliau tadi;

Lalu dengan wajah teduh dan damainya beliau mulai membuka kata demi kata;

“Ya kesempurnaan itu terjadi apa bisa ada dualitas ada keduanya; ada siang dan ada malam, ada hitam dan ada putih, ada api dan ada air, ada sehat dan ada sakit, ada kuat ada lemah, ada lapar ada juga kenyang, ada kita di sini dan ada mereka di sana”

“Mana yang lebih baik Api atau Air ?” beliau tiba2 bertanya pada saya.

Lalu saya berkata; “Tentu saja menurut saya air lebih baik dari pada api, air menyejukkan mendinginkan.”

“Nah disitulah apa bila kita belum memahami dualitas”.

”Ambil contoh Air, air itu dibutuhkan ketika api ada, Menyejukan itu dibutuhkan ketika ada panas, nah apakah orang2 di kutub utara lebih menyukai air yang dingin atau api yang hangat?.”

”Begitu pula malam datang meneduhkan dan mendinginkan bumi dan siang datang untuk menghidupkan bumi dengan panasnya matahari, Kebaikan itu baru kelihatan jika ada kejahatan. Seperti polisi juga dibutuhkan jika ada penjahat., KPK eksis karena ada para koruptor dst.”

“Itulah artinya semuanya sudah sempurna berada di perannya masing2, tinggal kita sebagai manusia yang diberi kuasa oleh Tuhan untuk memilih peran, maka silahkan tentukan kita mau mengambil peran apa?; apakah peran Api atau air, peran jahat atau baik.?”

Justru jika tidak ada salah satunya maka peran lawannya menjadi tidak lagi dibutuhkan dan berguna.”

Lalu saya bertanya lagi “ lalu bagaimana jika peran kejahatan ternyata jauh lebih banyak dari peran kebaikan, orang jahat jadi lebih banyak dari orang baik?”

“Ya tentu saja jika itu terjadi kita harus segera menambah jumlah orang2 yang memainkan peran kebaikan.”

“Nah begitulah juga peran anda dan kita disini, kita ada karena ada mereka disana yang merupakan kebalikan dari peran kita bukan? “

“Semakin banyak peran yang bukan kita maka semakin dibutuhkanlah keberadaan kita”

“Itulah mengapa kita tidak perlu lagi menghujat malainkan bersyukur, karena merekalah maka peran kita menjadi begitu berarti di tengah orang banyak.” Jadi barhentilah menghujat, tapi belajarlah melampaui dualitas tadi.

Sadarilah sebenarnya jauh lebih mudah mengambil peran sebagai kita yang ada disini ketimbang mereka yang sedang memainkan peran itu disana lho.. (melihat ke televisi)

Maksudnya seperti apa ? tanya saya lagi

”Oh Iya dengan memainkan peran kita ini kan, kita cenderung yang lebih banyak menuai pujian, meskipun akan selalu ada sekali2 cemoohan (kembali lagi itulah dualitas); tapi coba bayangkan jika kitalah yang sedang menjalankan peran mereka disana ?

”Jadi bagaimana agar saya bisa menuju kesana, menjadi lebih memahami dualitas kehidupan ini ?” Tanya saya pada sang Guru.

”Jika kita ingin melampaui dualitas, baik dan buruk dan tidak ingin lagi sering menghujat orang lain, maka belajarlah merasakan lapar sebelum merasakan kenyang, belajarlah di hujut sebelum di puji, cintailah siang jangan membenci malam, pahamilah dan terimalah peran mereka masing2 sebagaimana kita menerima peran kita sendiri.”

”Karena sesungguhnya mereka adalah guru-guru bagi kita yang sedang mengajarkan kita untuk bisa merasakan apa arti di hujat, apa arti bersabar, ya memahami kehidupan ini secara utuh bukan hanya separonya saja.”

”Ingat sering2 lah melatih diri dan belajar dan merasakan menjadi orang yang di hujat dan di cemooh agar kamu bisa tidak menghujat. Persis sebagaimana para guru besar dunia dari timur dulu, bagaimana para guru ini di hujat tanpa balas menghujat, dihina tanpa balik menghina, diludahi tanpa balik meludahi, dibilang gila tanpa harus membalas memaki, hingga pada akhirnya para guru ini mamahami apa hakekat hidup yang sesungguhnya. ”

Lalu bagaimana caranya ? tanya saya pada sang guru.

” Caranya bisa bermacam-macam, tapi yang paling mudah cobalah melontarkan sesuatu yang memungkinkan orang lain untuk menghujatmu, menghakimi mu, tapi sadarilah bahwa ini bukanlah dirimu yang sesungguhnya, melainkan hanya untuk melatih diri melepaskan dari penghakiman karena dualitas kehidupan ini.” Jawab sang guru dengan lembut.

”Setelah itu apa yang dilakukan ? bagaimana kita bisa kuat menghadapi cemoohan, hinaan, hujatan dan hal-hal yang tidak biasa kita terima ?” tanya saya lagi pada Guru.

Sejenak beliau mulai terdiam, dan berkata “lakukan seperti ini”

“Atur nafas… rileks… rileks…dan semakin rileks, lalu bayangkan dan
….terima….terima….terima…
….rasakan…rasakan…rasakan..
…. lepaskan..lepaskan…lepaskan..”

”Lakukan ini berulang-ulang hingga kamu terbiasa..“ dan semua perasaan negatif itu lepas dan sirna satu demi satu.”

Wah… sepertinya sulit betul ya, untuk bisa menjadi teduh, damai dan bijaksana seperti guru ? , kata saya.

”Pada awalnya mungkin terasa sulit tapi jika sudah di latih dan di latih lagi maka lama kelamaan akan menjadi lebih mudah karena terbiasa.”

“Jadi latihlah dirimu dan sering2lah merasakan atau berada di posisi lawan dari peranmu sekarang, agar kita benar2 terlatih untuk tidak lagi mudah terpancing dan terusik oleh isu apapun. Melainkan MEMPERKUAT PERANMU SENDIRI untuk menjadi apa, siapa dan melakukan apa.”

“Apakah kita ingin menjadi orang yang merusak atau memperbaiki hidup dan kehidupan ini itu adalah pilihan kita masing-masing berikut konsekuensinya masing-masing”.

”Jika kamu bisa melakukan itu secara spontan, maka damailah di hati dan damailah di bumi.” Beliau menyudahi penuturannya.

Ya Tuhan… mendengarkan penuturan ini rasanya diri saya masih terasa jauh sekali dari samudera keteduhan batin dan jiwa, rupanya saya masih harus mendaki jauh sekali menuju ke puncak kebijaksanaan tertinggi sebagaimana yang dituturkan Sang Guru Compassion.

Semoga Tuhan membimbing setiap langkah ku untuk mendaki satu demi satu anak tangga pelajaran menuju tataran Guru Compassion. Sumber : https://www.facebook.com/komunitas.edy

Menkes: Hampir Semua Obat Mengandung Babi

image_pdfimage_print

Demi memperjuangkan barang haram yang terkandung dalam vaksin, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menolak sertifikasi halal pada produk farmasi pada Rancangan Undang-undang Jaminan Produk Halal (RUU JPH), lansir Pelita Online.

Nafsiah Mboi menyatakan bahwa produk farmasi seperti obat dan vaksin memang mengandung barang haram sehingga tidak bisa disertifikasi halal.

“Contohnya, walaupun bahan vaksin tidak mengandung babi, tapi katalisatornya itu mengandung unsur babi. Sehingga tidak bisa dinilai kehalalannya,” ujar Nafsiah di Jakarta, Selasa (3/12).

Menurutnya, bila sertifikasi halal itu diterapkan, vaksin yang mengandung babi itu tidak bisa digunakan karena tidak memiliki sertifikasi halal.

Nafsiah berdalih, seorang yang berhaji terkena influenza tidak bisa diobati lantaran obatnya mengandung babi.

“Kita menolak sertifikasi halal itu untuk vaksin dan obat-obatan,” tandasnya.

Lebih lanjut Nafsiah mengaku dirinya tidak dilibatkan dalam pembahasan RUU ini. “Tidak (dilibatkan),” katanya. [POL/Bersamadakwah] Sumber : http://www.bersamadakwah.com

Gaza Dirikan 5 Sekolah Tenaga Surya

image_pdfimage_print

 

Sekolah Tenga Surya Gaza - ilustrasi InfoPalestina

Di balik duka Palestina yang kian bertambah berat pasca kudeta Mesir, ada kabar gembira dari bumi Jihad Gaza. Kementerian Pendidikan bekerjasama dengan Islamic Relief menyepakati proyek pembangunan 5 sekolah baru yang dilengkapi tenaga surya senilai 6 juta USD, lapor InfoPalestina.

Pembangunan sekolah tersebut merupakan hasil donasi Kuwait Fund untuk Pembangunan Ekonomi Arab untuk mendukung rakyat Palestina bekerjasama dengan Islamic Development Bank – Jeddah.

Penandatanganan Mou pembangunan sekolah tersebut dihadiri Dr. Anwar Bar’awi, Wakil Menteri Pendidikan dan jajarannya, serta dari pihak Islamic Relief dihadiri Ir. Munib Abu Ghazalah dan staff.

Rencananya dua buah sekolah dasar dan satu sekolah SMU akan dibangun di kawasan Gaza Barat, sementara dua SMU di kawasan Tengah.

Peletakan batu pertama akan dilaksanakan dalam waktu dekat, dan diperkirakan bisa beroperasi pada Desember tahun 2014 mendatang, namun blokade Israel menghambat masuknya bahan bangunan untuk membangung sekolah tersebut.

Sementara itu pihak Islamic Relief menegaskan, sebagai organisasi bantuan internasional, pihaknya akan terus menjalin kerjasama di segenap sektor dengan pihak kementerian pendidikan, yang bisa membawa hasil positif dalam pengembangan sektor pendidikan. [infopalestina/bersamadakwah]

Sumber : www.bersamadakwah.com

Mengatasi rasa iri pada anak terhadap teman yang lebih pintar

image_pdfimage_print

IMG_6044Melihat mama lain membanggakan keunggulan anak mereka tentu membuat Anda gemas. Anda ingin anak juga punya keunggulan tapi tidak ingin menyiksa dengan memaksanya menjadi seperti temannya. Lalu apa yang harus Anda lakukan? Indri Savitri, Psi., M.Psi. punya tip untuk Anda:

Tak usah bersedih hati. Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ajak anak untuk mencoba berbagai kegiatan agar ia pun tahu hal apa yang ia suka dan kuasai. Cobalah lebih peka melihat kemahiran anak, dan optimalkan potensinya.

IQ tinggi bukan segalanya. IQ hanyalah tes sampling yang memperkirakan kecerdasan anak. Be wise, Ma… Percayalah kalau anak bisa cerdas, walaupun skor IQ-nya tidak setinggi impian Anda.

Semua anak istimewa. Jadi, hindari membandingkan anak dengan temannya. Tidak hanya membuat anak merasa sedih, Anda juga membuatnya percaya kalau dirinya tidak pintar. Hargai segala usaha dan kelebihan yang anak tunjukkan.
Sumber : http://ht.ly/rra5k

Penerapan Kurikulum 2013

image_pdfimage_print

IMG_7580

Mulai tahun pelajaran 2014/2015 semua sekolah baik sekolah dibawah naungan Kemendikbud maupun Kemenag akan menerapkan kurikulum baru. Pelaksanaan Kurikulum 2013 ini diterapkan di seluruh sekolah ditujukan untuk kelas I, II, IV, dan V pada jenjang SD/MI. Hal ini berdasar pada Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 156928/MPK.A/KR/2013 Tentang Implementasi Kurikulum 2013.

Pada tahun pelajaran 2013/2014 ini, Kurikulum 2013 sudah dilaksanakan dan berjalan hampir satu semester di beberapa sekolah di 295 Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Untuk mendukung penerapan kurikulum 2013, Kemendikbud bersama dengan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota akan melakukan pelatihan dan pedampingan guru serta penyedian buku teks Kurikulum 2013.

Pelatihan dan pendampingan Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas akan dilaksanakan mulai tahun anggaran 2014. Penyediaan buku teks bagi siswa dan buku pegangan guru dilakukan per semester. Sumber dana pengadaan buku Kurikulum 2013 dialokasikan dari dana BOS, DIPA Kemendikbud, dan DAK tahun 2014. Sehingga penyediaan buku teks kurikulum 2013 tidak dibebankan kepada siswa.

Untuk memantapkan pemahaman terhadap penerapan Kurikulum 2013, akan dilakukan Program Pendampingan kepada semua sekolah dengan sasaran Pengawas, Kepala Sekolah, Tim Pengembang Kurikulum, dan Guru Inti. Program pendampingan ini dilaksanakan oleh Kemendikbud. Sedangkan pelatihan guru dan penyediaan buku Kurikulum 2013 untuk satuan pendidikan madrasah akan dikoordinasikan olleh Kemenag.

Sumber: http://www.sekolahdasar.net/2013/11/mulai-2014-semua-sekolah-terapkan-kurikulum-2013.html#ixzz2meVWNbG6
[mapsmarker =””]

UN MENJADI US atau Ujian Sekolah

image_pdfimage_print

myphotoNEW Pada tahun sebelumnya, ujian akhir Sekolah Dasar (SD) terdiri dari Ujian Nasional (UN) dan Ujian Sekolah (US) SD. Mulai tahun depan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meringkas pelaksanaan ujian kelulusan SD dengan menghapus UN SD. Ujian akhir yang diterapkan di SD hanya Ujian Sekolah atau Ujian Madrasah untuk jenis Madrasah Ibtidaiyah.

Sekjen Kemendikbud Ainun Na’im saat Rapat Koordinasi Persiapan Implementasi Kurikulum 2013 di Tahun 2014 dan Ujian Nasional 2014, menuturkan, secara resmi nama ujian akhir untuk jenjang SD sudah diganti. “Namanya sekarang ujian Sekolah atau Ujian Madrasah. Berlaku untuk jenjang SD dan sederajat,” kata Ainun seperti SekolahDasar.Net kutip dari JPNN.com (04/12/2013).

Pelaksanaan ujian telah ditetapkan pada 19 – 21 Mei 2014. Mata pelajaran yang diujikan di US dan UM itu hanya ada tiga, yakni Bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Sedangkan untuk SDLB (SD Luar Biasa) mata pelajar yang diujikan adalah bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), matematika, dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

Ainun memastikan hanya ada satu jenis ujian akhir untuk jenjang SD. Pada ujian akhir SD tahun depan, Kemendikbud masih melakukan intervensi dengan menentukan 25 persen dalam bentuk kisi-kisi. Pembuatan soal ujian dan pelaksanaannya diserahkan kepada daerah. Terkait dengan kelulusan SD dan MI, tetap diserahkan ke satuan pendidikan atau sekolah.

Sumber: http://www.sekolahdasar.net/2013/12/un-sd-dihapus-berganti-menjadi-ujian-sekolah.html#ixzz2meSzXefw

OUTING CLASS

image_pdfimage_print

IMG_3494

Agenda terdekat SDIT Harapan Ummat adalah Outing Class. Kali ini kami berkunjung ke wilayah Sawangan Depok yaitu PT. Godong Ijo Asri  Jl. Cinangka Raya KM 10 No. 60 Serua – Bojongsari, Sawangan, Jabar.

Aktifitas di sana sudah pasti sangat menarik buat anak-anak, diantaranya:

1. Welcoming ceremony, Movie, Opera

2. Touring Keliling Dunia dengan Flora & Fauna, Showroom, Mist Room, Green House

3. Membentuk Keramik Menggunakan Teknik Cetak & Putar (500 gr Clay)

4. Fun Games / Team Building

5. Feeding & Showering Giant Tortoise

6. Planting Class: 1 pot tanaman / Vertical Garden atau Handy Craft from Recycling Goods

7. Reptile Corner: Interaction & Feeding Iguana, Tortoises, Lizards & Geckoes

8. Catching Fish (Tangkap Ikan)

Sangat menarik bukan???

so kita tunggu besok Senin, 18 Nopember 2013 di Sawangan.

 

Jadwal Pelajaran

image_pdfimage_print

Bagi yang menginginkan jadwal pelajaran silahkan kirim email Anda ke sditharum10@gmail.com! Nanti akan kami kirim permintaan Anda.

Misteri Sertifikasi Guru

image_pdfimage_print

Apa Pendapat Anda?? 

Sebanyak 535 guru mengikuti Uji Kompetensi Awal Sertifikasi Guru di SMK Negeri 2 Yogyakarta, Jetis, Yogyakarta, Sabtu (25/2/2012). Ujian tersebut merupakan salah satu syarat untuk menerima sertifikat pendidik serta tunjangan profesional guru. | KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Oleh Hafid Abbas

Pada 14 Maret 2013, Bank Dunia meluncurkan publikasi: ”Spending More or Spending Better: Improving Education Financing in Indonesia”. Publikasi itu menunjukkan, para guru yang telah memperoleh sertifikasi dan yang belum ternyata menunjukkan prestasi yang relatif sama.

Program sertifikasi guru yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selama beberapa tahun terakhir ternyata tidak memberi dampak perbaikan terhadap mutu pendidikan nasional. Padahal, penyelenggaraannya telah menguras sekitar dua pertiga dari total anggaran pendidikan yang mencapai 20 persen APBN (hal 68). Pada 2010, sebagai contoh, biaya sertifikasi mencapai Rp 110 triliun!

Kesimpulan Bank Dunia itu diperoleh setelah meneliti sejak 2009 di 240 SD negeri dan 120 SMP di seluruh Indonesia, dengan melibatkan 39.531 siswa. Hasil tes antara siswa yang diajar guru yang bersertifikasi dan yang tidak untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, serta IPA dan Bahasa Inggris diperbandingkan. Hasilnya, tidak terdapat pengaruh program sertifikasi guru terhadap hasil belajar siswa, baik di SD maupun SMP.

Tiga implikasi

Publikasi Bank Dunia tersebut bagai tumpukan misteri yang mengingatkan saya pada film dokumenter An Inconvenient Truth (2006) yang disutradarai Davis Guggenheim.

Film ini mengisahkan kerisauan mantan Wapres (AS) Al Gore atas realitas-realitas berbahaya terhadap pemanasan global yang memerlukan tanggung jawab semua pihak. Analog dengan film dokumenter itu, publikasi Bank Dunia ini memuat begitu banyak realitas berbahaya bagi masa depan bangsa yang perlu pembenahan secepatnya.

Bertolak dari temuan Bank Dunia tersebut, kelihatannya terdapat tiga implikasi penting yang mendesak dibenahi. Pertama, bagaimana menghilangkan pola formalitas penyelenggaraan program sertifikasi guru.

Program ini sesungguhnya tuntutan yang diamanatkan UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang mewajibkan seluruh guru disertifikasi dan diharapkan tuntas sebelum 2015. Upaya ini semata-mata dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru, yang selanjutnya akan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan nasional secara keseluruhan.

Sejak 2005, guru-guru telah diseleksi untuk mengikuti program sertifikasi berdasarkan kualifikasi akademik, senioritas, dan golongan kepangkatan, seperti harus berpendidikan S-1 dan jumlah jam mengajar 24 jam per minggu. Indikator ini digunakan untuk memperhatikan kompetensi pedagogis, kepribadian, sosial, dan emosional mereka.

Sejak itu, sekitar 2 juta guru telah disertifikasi, baik melalui penilaian portofolio pengalaman kerja dan pelatihan yang telah diperoleh ataupun melalui pendidikan dan latihan profesi guru (PLPG) selama 90 jam. Para guru yang telah lulus disebut guru bersertifikasi dan berhak mendapatkan tunjangan profesi sebesar gaji pokok yang diterima setiap bulannya. Pemerintah telah mencanangkan, pada 2015 hanya guru yang bersertifikasi yang diperbolehkan mengajar.

Dengan target tersebut, penyelenggaraan sertifikasi guru kelihatannya telah dipersepsikan sebagai proyek besar yang keberhasilannya diukur secara kuantitatif sesuai target. Akibatnya, proses pelaksanaannya mudah terbawa ke kebiasaan formalitas birokrasi yang ada.

Kedua, bagaimana mengaitkan program sertifikasi guru dengan pembenahan mekanisme pengadaan dan perekrutan calon guru di perguruan tinggi lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK). Sesuai amanat UU, LPTK adalah perguruan tinggi yang diberi tugas menyelenggarakan program pengadaan guru pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan/atau pendidikan menengah, serta untuk menyelenggarakan dan mengembangkan ilmu kependidikan dan nonkependidikan. Namun, pasca- konversi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan jadi universitas, perhatian mereka sebagai LPTK tidak lagi terfokus ke penyiapan guru, tetapi lebih tergoda ke orientasi non-kependidikan.

Akibatnya, tugas-tugas penyelenggaraan sertifikasi yang dibebankan kepada sejumlah LPTK tak tertangani maksimal. Bahkan, peran dalam penyiapan calon guru tak lagi didasarkan atas perencanaan yang lebih sistemis dan komprehensif.

Meski secara kuantitatif Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah guru terbanyak di dunia, diukur dari rasio guru-siswa, tetapi perekrutan mahasiswa calon guru, terutama di LPTK swasta, seakan tanpa kendali. Studi UNESCO (UIS-2009) menunjukkan, untuk jenjang SD rasio guru-siswa adalah 1:16,61, yang berarti seorang guru hanya mengajar 16-17 siswa. Rasio ini jauh lebih rendah dibandingkan Jepang (18,05), Inggris (18,27), bahkan Singapura (17,44). Secara internasional, rata-rata di seluruh dunia rasionya adalah 1:27,7 atau seorang guru dengan 27-28 siswa. Keadaan serupa juga terjadi di jenjang pendidikan menengah.

Ketiga, bagaimana menyelenggarakan program sertifikasi guru agar lebih berbasis di kelas. Selama ini mereka yang mengikuti PLPG kelihatannya tidak dirancang untuk mengamati kompetensinya mengajar di kelas. Proses sertifikasi guru berjalan terpisah dengan peningkatan mutu proses belajar-mengajar di kelas. Akibatnya, penyelenggaraan program sertifikasi guru tersebut tidak berdampak pada peningkatan mutu secara keseluruhan.

Data menunjukkan, pada 2011, TIMMS (studi internasional tentang matematika dan IPA) melaporkan, untuk matematika skor Indonesia 386, tak jauh beda dengan Suriah (380), Oman (366), dan Ghana (331). Sementara untuk IPA, Indonesia (406) tak jauh beda dengan Botswana (404) dan Ghana (306). Selanjutnya, studi PISA (program penilaian siswa internasional untuk matematika, IPA, dan membaca) pun menunjukkan Indonesia selalu berada pada urutan kelompok terendah di dunia (hal 11).

Fokus ke PBM di kelas

Saya teringat ketika membantu UNESCO sebagai konsultan di Asia-Pasifik pada 1993-1994, ketika mengunjungi Manabo yang berjarak sekitar 300 kilometer dari Manila. Guru-guru di pedesaan sana ternyata akan memperoleh tambahan insentif jika mereka secara nyata berinovasi meningkatkan mutu proses belajar-mengajar (PBM) di kelas.

Cara mengukurnya sederhana. Pengawas atau penilik sekolah cukup mengamati kegiatan PBM secara berkala; apakah terdapat persiapan yang memadai atau tidak, apakah ada media belajar sebagai kreasi inovatif guru atau tidak, dan seterusnya. Pembinaan kesejahteraan dan promosi karier para guru dilakukan dengan berbasiskan pada kinerja dalam meningkatkan kualitas PBM-nya.

Akhirnya, meski penyelenggaraan sertifikasi guru telah berdampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan guru, yakni dapat menurunkan jumlah guru yang kerja rangkap secara drastis dari 33 persen sebelum sertifikasi ke 7 persen sesudah sertifikasi (hal 73), perubahan apa pun yang dilakukan, kurikulum apa pun yang diberlakukan, dan kebijakan apa pun yang hendak diambil, jika tak menyentuh perbaikan proses belajar-mengajar di kelas, hasilnya akan sia-sia.

Hafid Abbas Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta

Bentuk Baru UN SD Masih Tunggu Konvensi Pendidikan

image_pdfimage_print

UN2014Bentuk baru ujian nasional (UN) untuk SD masih belum ditetapkan. Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Ibnu Hamad mengatakan penetapan formula baru ujian kelulusan tersebut menunggu konvensi pendidikan yang akan digelar September mendatang.
“Peniadaan UN SD pada PP No 32/2013 itu mengandung dua makna. Pertama UN SMP dan SMA masih terus ada. Kedua UN SD ditiadakan dan akan dicari bentuk barunya pada konvensi pendidikan,” jelas Ibnu ketika dihubungi Rabu (15/5).
Menurutnya, pada konvensi tingkat nasional itu tidak hanya membahas bentuk baru UN SD saja. Tapi juga isu-isu pendidikan lainnya. Kemendikbud juga akan mengundang berbagai tokoh yang peduli terhadap pendidikan. Termasuk pemerhati dan pengamat pendidikan yang sering mengkritisi kebijakan pendidikan.
“Nanti akan dibahas bentuk barunya seperti apa dan siapa yang menyelenggarakan,” kata Ibnu.
sumber…

Contact Person WhatsApp us